Kembali ke pelukan diri, minggu buat diam & nyambung lagi dengan jiwa
Hari minggu. Hari tanpa alarm. Hari tanpa jadwal. Hari tanpa kewajiban. Tapi bukan berarti kosong. Justru di kekosongan itu, jiwa mendapat ruang untuk bernapas.
Minggu bukan sekadar akhir pekan, ia adalah pulang.
Pulang ke rumah diri.
Pulang ke kesadaran.
Pulang ke keheningan.
Dunia hening hanya ketika dalamnya hening. Banyak orang berharap damai dari luar, tempat yang sepi, suasana yang tenang. Tapi jika batin berisik, tempat sunyi pun terasa gaduh.
Maka, Minggu adalah latihan masuk ke dalam sunyi, bukan sekadar mencari sunyi.
Izinkan tubuh dan jiwa beristirahat secara utuh. Istirahat bukan hanya tidur. Istirahat adalah mengampuni, melepaskan, menghentikan pemaksaan diri untuk menjadi ‘produktif’. Hari ini, cukup menjadi ‘ada’ dan itu sudah cukup. Satu tindakan untuk menyatu kembali dengan diri:
- Minum teh hangat sambil memeluk diri sendiri
- Menyalakan dupa atau lilin, lalu bernafas perlahan
- Menggambar, menulis puisi, atau duduk di bawah pohon
Berikan afirmasi kepada dirimu:
“Aku menerima diriku sepenuhnya.”
“Aku hadir utuh di sini dan sekarang.”
“Aku pantas untuk damai.”
Minggu bukan untuk mengejar. Minggu adalah saat untuk melepaskan. Hari ini, jangan sibuk ‘menjadi’. Cukup kembalilah ke pelukan dirimu sendiri. Karena dalam pelukan itu, segala yang lelah bisa larut. Segala yang rapuh bisa pulih.
Kalau tulisan ini nyantol ke rasa lo... coba buka label [keberlimpahan] atau [refleksi], siapa tahu ada yang lagi nunggu lo baca. Pelan-pelan aja, gak semua harus langsung paham.

Komentar
Posting Komentar